MENGENAL LEBIH JAUH SOSOK PELOPOR PERS DI INDONESIA, DJAMALUDDIN ADINEGORO
Djamaluddin Adinegoro, lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat pada tanggal 14 Agustus 1904, merupakan seorang penulis yang mengadopsi nama samaran Adinegoro. Nama ini diusulkan oleh Landjumin Tumenggung, pengasuh majalah Tjahaja Hinia, untuk menarik pembaca dari Jawa. Djamaluddin, atau lebih dikenal dengan Adinegoro, terkenal dalam dunia persuratkabaran dan dianggap sebagai pelopor pers Indonesia.
Adinegoro memiliki latar belakang keluarga yang memungkinkannya masuk ke Europeesche Lagere School (ELS), meskipun sekolah tersebut awalnya ditujukan untuk anak-anak Belanda. Pendidikannya dilanjutkan ke HIS dan kemudian ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Betawi. Namun, minatnya dalam menulis membawanya ke dunia jurnalistik, menghentikan studi kedokterannya.
Kiprahnya dalam jurnalistik membuatnya dianugerahi gelar Perintis Press Indonesia. Dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai badan tertinggi insan press nasional, menyediakan tanda penghargaan tertinggi bagi karya jurnalistik terbaik setiap tahunnya, yaitu “Hadiah Adinegoro”. Meskipun sastra bukan fokus utamanya, dia menulis dua novel pada awal kariernya, Darah Moeda dan Asmara Djaja, yang mengangkat tema konflik antargenerasi dan perkawinan antarsuku. Selain itu, Adinegoro juga menulis novel perjalanan berjudul Melawat ke Barat (1987), Dengan novel ini Adinegoro mengukuhkan profesinya sebagai sastrawan sekaligus sebagai wartawan. Dapat dikatakan bahwa kegiatannya dalam dunia kesusastraan membawa jenis penulisan sastra yang sekarang dikenal sebagai jurnalistik sastra yang dikembangkan Goenawan Mohamad dalam Tempo.
(AR)
Sumber:
https://www.kompas.com/stori/read/2022/08/29/080000079/biografi-singkat-djamaluddin-adinegoro
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar